Kamis, 27 Desember 2012

Puisi 25 Desember~ Penantian sia-sia

menyiksa ku dalam setiap nafas
cerita kita tak seindah imanjinasi
Pergi tak menanggalkan kabarpun
menghilang demi orang lain disana

sesalpun terus melanda
menghinggapi entah sampai kapan
aku bisa berbuat apa
hanya menunggu dirimu tentang putusan

tak jauh harapan tentang kesedihan
mengucilkanku dari sebuah kebahagiaan
demi orang lain disana
kepadanya kau berbahagia

penantian datang sembari tertawa
menandakan kenistaan kisah asmara
seribu tahun penantian terasa lamanya
menandakan ku masih belum kuasa

Selasa, 18 Desember 2012

Warisan Luhur Ini harus kita jaga bersama

Sore ini tampak masih setia menemaniku hembusan angin diruang tertutup nan gelap
mencoba menenangkan aku disaat mulai ada gejolak yang tak terbendung
melihat bibit bibit muda yang cenderung tumbuh tak sesuai harapannya

seribu langkah ku munculkan dalam benakku mencoba menjadikannya pupuk
yang kan menjadi saksi tanpa kata tanpa rasa yang kumengerti dikemudian hari
tak seorang pun yang berada di belakangku selain sosok sosok yang sudah lama bersama berpetualang dalam bingkai persahabatan,


masa regenarasi sudah saatnya bertakhta
menggantikannya tanpa paksa tanpa ada daya
titah sang guru kini menjadi dasar utama tuk mengibarkan panji keislaman
membina putra putri bangsa menjadi Ulil Albab

~_Lembaga Pendidikan Islam Hidayatuddiniyah_ ~
Ini adalah warisan yang pada dasarnya tak pernah kita tunggu dan tak pernah kita harapkan sebelumya.
lahir ditempat ini adalah keharusan yang di bangun menjadi tempat men-transfer kaidah-kaidah kehidupan, tentu jika ini hanya dibebankan pada seorang diri maka kita tak kan mampu memberikan mereka bekal hidup dimasa depan yang notabennya sudah mengabaikan etika dan lebih mengambil budaya kebarat-baratan (westernisasi) yang sifatnya sudah ekspansif dan tak kan kita temukan mereka yang dimasa sepan hidup dengan makna eksistensi dari kalamullah al-qur'an.

maka perlu adanya suatu inisiatif untuk membangun peradaban yang berlandaskan al-Qur'an dan al-hadits, dan membendung ajaran-ajaran negatifisme sebelum mereka terjangkitinya.
mendirikan sebuah komunitas Islam merupakan upaya untuk menggapai harapan itu, dengan kebersamaan kita akan sama-sama membangun peradaban islam yang memiliki prospek indah di masa depan dan hal itulah yang harus kita beri kepada anak didik kita sebagai warisan luhur yang tak kan pernah tertandingi dengan tingginya nilai dolar sekalipun.

Mari saatnya kita yang bergerak, tidak selamanya kita menjadi anak-anak yang hanya minta diurusi oleh yang dewasa, sudah tiba waktu kita untuk balik mengurusnya. dan hal itu tidak bisa dipungkiri lagi.
adek-adek yang lugu itu tak seharusnya kita lihat dimasa depan dengan botol-botol alkohol disampingnya, perempua-perempuan telanjang dibelakangnya.
Ingat !! tugas ini bukan hanya untuk seorang guru tapi kita semua harus menjadi kreator terciptanya manusia berintelektual tinggi dan moral-moral luhur yang menjanjikan.

sekali lagi kita harus sama-sama membangun dan menjaga warisan-warisan luhur ini, khususnya di Lembaga Hidayatuddiniyah.

@Rava

Selasa, 11 Desember 2012

kalimat sedihku

masih tampak gelap tempat ini, tidak ada secercah cahaya yang menyelinap, menyisakan pemandangan yang tak bersahabat.
langkah gontai menapaki bumi menelusuri jalan yang terasa menjumpai lubang-lubang membuat langkah semakin berat.
ditambah basahnya tanah menjadikan ia lumpur disetiap jalan.

Ikhwal ini mengintip sosok dibalik bilik yang sudah terborgol dimasa lalu.
bukan dirimu sekarang, bukan dirimu di esok hari.
tak pernah mau mengulang bayangan itu, tak pernah bisa mengingat keadaannya.
semata-mata karena dirimu hadir dikehidupanku, membuyarkan lamunan kelamku, mengancurkannya, menjadikanya s'sosok yang tak seindah permata diera keemasannya.

dirimu menemani, mengobati, menjadi topik utama disetiap hayalan.
pertemuan singkat itu sudah menjadikanku mengenalmu semasa perjalanan mengelilingi bumi.

indah dikala dengar suaramu, melihat senyumu, mengundang tawamu.
namun kelam disaat kau tak sedikitpun menyediakan waktu buat aku, mengelakkan dan tak mengingatku.

Kau yang disana, bukalah telingamu untuk mendengar bisikanku,
ku berbisik didekatmu, namun bagimu bisikanku seperti terpisah diantara beratus-ratus kilo
mengertilah tentang diriku, ku menginginkanmu disetiap langkahku.

kau yang disana, lihatlah diriku walaupun dalam bentuk bayangan semata
jika dirimu tak bisa melihatku secara kasat mata.
satu menit saja perhatiamu bak seratus tahun mengiriku.

Kau yang disan, jangan abaikan diriku, jelaskan jika kau memang masih terbelenggu dengan sosok yang lain. agar diriku mengerti tak bisanya aku menandinginya.
diriku hanyalah diriku, betapapun lemahnya diriku dan sekuat apapun dirinya yang terpenting adalah bagaimana bisa diriku mengajakmu masuk dalam kehidupanku. dan menjadikanmu bagian dari diriku yang lain.



Kamis, 06 Desember 2012

tiga jenis musibah

Manusia selalu mengharapkan nikmat untuk dirinya, tentu nikmat adalah sesuatu yang membuat seseorang nyaman. namun nikmat nyatanya bukan dinilai dari bentuk luarnya namun juga esensinya
seperti adanya musibah dari Allah, dikatakan bentuk dari musibah itu adalah hilangnya nikmat tapi terkadang nikmat terkandung dalam musibah itu sendiri. orang menyebutnya ada hikmah dibalik Musibah, itulah nikmat yang dimaksud dalam esensinya.
namun hanya segelintir orang yang bisa memahami hikmah dibalik musibah. orang yang mengerti dan beriman mengetahui kebaikan dibalik musibah kemudian akan menyikapinya dengan kesabaran dan kepasrahan kepada sang maha kuasa. sedangkan orang yang mengerti namun tidak beriman kadangkala menyikapinya dengan pandangan negatif karena ketidak mampuannya menerima musibah yang dinilai berat untuk dialami.

Tentang adanya musibah hal itu berhubungan dengan kodrat alam adanya sebab-akibat, pun al-Qur'an telah menjelaskannya didalam surah al-Kahfi (15).
sebab-akibat merupakan sesuatu yang tidak luput dari segala aspek kehidupan. musibah terjadi karena ada sebabnya, hal ini yang kemudian membagi Musibah menjadi tiga bagian yang semuanya tetap dalam lingkup sebab sebagai awal yang memunculkannya.
 
Pertama : Musibah sebagai ujian dari allah untuk menguji kadar keimanan hambanya. seperti  yang telah ditimpakan kepada para Rasul dan nabi Allah, tak luput dari hal ini Nabi muhammad yang notabennya sebagai makhluk yang paling mulia ini pernah mengalami musibah dalam kategori ujian ini seperti yang dijelaskan dalam kisah meniggalnya paman beliau abu thalib yang tidak berselang kemudian istirnya saidah khadijah merupakan pukulan yang sangat telak bagi beliau. hikmah dibalik musibah macam ini ialah semakin meningktnya kadar iman seseorang sehingga semakin dekat dengan allah s.w.t.
musibah ini merupakan aktualisasi dari firman allah : ma asaba min musiibatin fabiidznillahi wa yahdi qalbahu yang menjelaskan hal ini berdasarkan idzin allah yang kemudian akan ada petunjuk dari-Nya (kebaikan).

kedua : Musibah sebagai ujian dari Allah untuk menegor hamba-hambanya yang mulai jarang mengingatnya. Allah maha penyayang terhadap hamba-hambanya sehingga ketika mereka lupa dan semakin menjauh maka dengan sifat ar-rahimnya  Allah memberikan musibah sebagai teguran untuk mengajak kembali kejalan sebelummnya, ini yang menjadikan sebab kembalinya hamba-hamba allah kejalan yang sirat al-mustaqim. kembalinya para hamba-hamba allah inilah yang merupakan hikmah dibalik musibah ini, yang menyalamatkan mereka dari mengikuti khutuwat as-syaithan jalan setan. naudzubillah min dzalik. amin.

dan ketiga : musibah sebagai adzab atau siksa terhadap manusia yang melakukan dosa. seperti apa yang telah di alami oleh kaum-kaum terdahulu. seperti dalam kisah Nabi Nuh as yang allah menenggelamkan mereka dengan banjir yang super dahsyat yang membuat mereka meninggal dan tidak menyisakan nyawa satupun dari mereka dengan sebab tak mau mempercayai dakwah Nuh as dan mengelak darinya malah dari kebanyakan mereka malah mencaci maki Nuh. pada akhirnya tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali Nuh dan para pengikutnya.
musibah ini mengharuskan seseorang untuk mengambil jalan taubat untuk mendapatkan ampunan-Nya.

dari jenis musibah kedua dan tiga ini merupakan penjabaran dari firman allah yang lain : ma asaba min musibatin fabima kasabat aidikum wa yakfu 'an katsir. sebagai akibat dari perbuatan manusia itu sendiri yang mendatangkanya yang kemudian harius disikapi dengan taubat dan memohon ampunan dari-Nya.  
 
 Wallahu A'lam.

Minggu, 18 November 2012

ke-PGRI-an



Nama        :     Moh. Faqih Alfarobi
NPM         :     1134411104

 

 

FILOSOFI JATIDIRI PGRI


Jatidiri PGRI

                  Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) lahir pada tanggal 25 Nopember 1945 di kota Solo, Jawa Tengah. Secara nasional, PGRI mempunyai jalinan struktur organisasi mulai dari tingkat pusat (Pengurus Besar) kemudian Pengurus Provinsi, Pengurus Kabupaten/Kota, Pengurus Cabang (Kecamatan dan Unit khusus), serta Pengurus Ranting yang mewadahi anggota sejumlah kurang lebih 2 juta orang. Pada tingkat regional, PGRI menjalin kerja sama dengan organisasi guru di negara ASEAN yang tergabung dalam ACT (Asean Council of Teachers). Pada tingkat internasional PGRI menjadi bagian dari EI (Education International) yaitu persatuan organisasi guru-guru seluruh dunia.
                  Kongres PGRI ke 18 tahun 1998, di Bandung, kongres ke 19 di Semarang tahun 2003, dan kongres ke 20 di Palembang tahun 2008 telah mempertegas kembali jatidiri PGRI,  jatidiri PGRI itu adalah organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan  yang mewadahi kaum guru di seluruh Indonesia dalam upaya mewujudkan hak-hak azasinya sebagai pribadi, warga negara, dan pengemban profesi. Adapun sifatnya, PGRI sebagai organisasi yang unitaristik, independen, dan non-politik praktis.
                  Sebagai organisasi perjuangan, PGRI merupakan wadah untuuk memperoleh, mempertahankan, meningkatkan, dan membela hak azasinya baik sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan pemangku profesi keguruan. PGRI berjuang untuk mewujudkan   hak-hak kaum guru yaitu perwujudan masyarakat adil dan makmur dalam negara kesatuan Republik Indonesia, pembangunan nasional, pendidikan nasional, kesejahteraan guru, dan profesionalitas guru. Selanjutnya dalam kaitan sebagai warganegara, PGRI ikut serta memperjuangkan tetap lestarinya negara kesatuan Republik Indonesia berperan dalam pembangunan nasional, serta mewujudkan pendidikan nasional. Semua itu ditujukan untuk tercapainya wujud kinerja profesional guru secara  optimal.
                  Sebagai organisasi profesi, PGRI berfungsi sebagai wadah kebersamaan  rasa kesejawatan para anggota dalam: (1) mewujudkan keberadaannya di lingkungan masyarakat, (2) memperjuangkan segala aspirasi dan kepentingannya suatu profesi, (3) menetapkan standar perilaku profesional, (4) melindungi seluruh anggota, (5) meningkatkan kualitas kesejahteraan, (6) mengembangkan kualitas pribadi dan profesi. Dengan adanya organisasi profesi, setiap anggota mendapat perlindungan dalam mewujudkan profesionalitasnya secara lebih terarah dan efektif dalam suasana rasa aman yang kondusif.
                  Sebagai organisasi ketenaga-kerjaan, PGRI juga sebagai wadah perjuangan hak-hak azasi guru sebagai pekerja untuk mencapai kesejahteraan hidup. Dalam konsep yang lebih luas, kesejahteraan mempunyai makna sebagai suatu kondisi kehidupan yang utuh, seimbang, dan wajar. Perwujudan kesejahteraan secara utuh ditopang oleh lima pilar yaitu: (1) imbalan jasa, (3) rasa aman, (3) hubungan antar pribadi, (4) kondisi kerja, dan (5) kesempatan untuk pengembangan dan peningkatan karir dan pribadi.
               

Landasan filosofis

   Jatidiri PGRI sebagaimana dikemukakan di atas, merupakan ciri khas eksistensi PGRI sebagai wadah para guru. Dengan ini pula PGRI bersifat unik yang membedakan dengan organisasi guru lainnya baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam kata “PGRI” terkandung empat kata yang memiliki landasan filosofis yang amat mendalam sehingga menjadi fundasi yang kokoh bagi eksistensi jatidiri PGRI itu sendiri. Keempat kata itu adalah (1) Persatuan, (2) Guru, (3) Republik, (dan (4) Indonesia.
   Kata “persatuan” mengandung makna bahwa guru yang pada hakekatnya memiliki keragaman secara individual, tetapi semua merasa memiliki satu kesamaan kolektif. Adalah satu kenyataan bahwa guru secara individual memiliki rentangan keragaman dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan  seperti pendidikan, latar belakang budaya, agama, etnis, jenis kelamin nilai-nilai kehidupan, dsb. Namun mereka memiliki satu kesadaran kolektif yang membuat mereka merasat “satu”  seperti satu nasib, satu penderitaan, satu tujuan, satu cita-cita, dsb. Ini kemudian berkembang menjadi satu wujud “solidaritas” yang kemudian mendorong untuk bersama-sama berada dalam satu payung “persatuan”   Solidaritas itu tumbuh dan berkembang karena adanya kesamaan yang berbagi. Solidaritas guru didasari oleh  kesamaan dalam aspek: (1)  minat yaitu rasa senang atau tidak senang terhadap sesuautu obyek,  (2) perasaan, yaitu kondisi afektif berupa getaran batin yang memberikan suasana tertentu sebagai landasan dalam memperoleh kelangsungan hidup, (3) tindakan yaitu perbuatan nyata yang dilakukan untuk mencapai satu tujuan tertentu, dan (4) simpati, yaitu satu kecenderungan untuk menempatkan diri dalam suasana perasaan pihak lain. Dengan bermodalkan solidaritas itu maka PGRI mewujud menjadi satu organisasi yang solid. dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1)  dalam bentuk yang selalu tetap atau tidak berubah-ubah secara fundamental, (2) tidak memiliki lubang-lubang atau kekosongan, (3) terwujud dalam substansi yang sama dan konstan, (4) kuat dan mantap dalam konstruksinya sehingga mampu menahan beban dan dan tekanan, (5) memiliki reputasi dan kepercayaan, (6) dalam kesepakatan yang lengkap, (7) berkesinambungan atau tidak terputus, (8) berwujud dalam dimensi panjang, lebar, dan tinggi baik ruang maupun waktu.
   Kata “guru” merujuk pada subyek utama PGRI yaitu unsur yang menjadi inti dinamika organisasi yang bernama “guru”. Oleh karena itu secara mendasar dan filosofis “guru” merupakan subyek yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan umat manusia. Karena gurulah yang memanusiakan manusia melalui pendidikan. Dalam undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan Dosen dikatakan bahwa: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah” (pasal 1). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa “guru” merupakan figur sentral dalam pendidikan dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
   Dua kata berikutnya adalah “Republik” dan “Indonesia” yang direngkaikan menjadi satu makna yaitu Republik Indonesia sebagai tempat melaksanakan pengkhidmatannya adalah sebuah negara yang bernama “Indonesia” yang berbentuk “Republik”. Melalui PGRI para guru memberikan pengakuan terhadap keberadaan Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 dan berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Semua itu dinyatakan secara demokratis pada saat berdirinya PGRI pada tanggal 25 Nopember 1945. Hal ini sekaligus menunjukan kepada seluruh lapisan bangsa Indonesia, bahwa guru merupakan unsur bangsa yang berada di depan dalam perjuangan mewujudkan kelahiran Republik Indonesia. Pencantuman “RI”. Dalam “PGRI” memberikan motivasi bagi para guru untuk berperilaku sebagai warganegara yang berkewajiban untuk mempertahankan dan memajukan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
   Para pejuang dan pendiri PGRI sungguh memiliki kearifan yang luar biasa dengan memberi nama “Persatuan Guru Republik Indonesia” yang memiliki landasan filofofis multidimensional yang amat kokoh. Dalam pemberian nama PGRI terkandung dimensi filosofis, religis, politis, pedagogis, historis,  sosial-kultural, kemanusiaan, dsb. Hal ini terbukti banyak organisasi lain yang menggunakan “I” atau “RI” kini sudah berubah atau malah hilang, akan tetapi PGRI masih tetap lestari hingga sekarang dan pasti untuk masa mendatang. Semua itu menunjukkan bahwa PGRI dibangun di atas landasan filosofis yang kokoh. Itulah sebuah mahakarya para guru dalam pengabdian kepada bangsa dan negara Indonesia.
   Bentuk PGRI dapat ditampilkan dengan membangun sekolah dengan modal bersama meskipun pada saat itu kemampuan ekonomi sangat morat marit, namun semangat juang para guru yang tinggi mampu membangun lembaga pendidikan. Kini sekolah-sekolah itu bernama Sekolah PGRI dan sebagian telah diserahklan kepada pemerintah untuk menjadi sekolah negeri. Inilah bakti para guru melalui PGRI kepada bangsa dan negara. Hal seperti ini tidak terdapat di organisasi guru di negeri lain.
   Untuk lebih melestarikan jatidiri PGRI, ada beberapa asumsi filosofis yang dapat dijadikan rujukan. Asumsi-asumsi filosofis itu adalah sebagai berikut:

1.        Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menjadi khalifah dengan menjaga kelestarian kehidupan di alam semesta. Jatidiri PGRI pada hakekatnya merupakan wujud manusia dalam melaksanakan amanahnya sebagai khalifah di muka yaitu berjuang untuk kemaslahatan kaum guru dan kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara keseluruhan.
2.         Setiap manusia dilahirkan dengan membawa sejumlah potensi sebagai bekal untuk melaksanakan tugas memperoleh kelangsungan hidupnya dalam mencapai aktualisasi diri. Nasib para guru sangat tergantung dari sampai sejauh mana guru itu dapat merubah nasibnya melalui berbagai perjuangan. Manusia dilahirkan bersifat unik sehingga secara individual manusia akan berbeda satu dengan lainnya. Namun di sisi lain manusia juga memiliki kecenderungan kesamaan yang kemudian melahirkan kesadaran kolektif yang pada akhirnya medndorong manusia untuk senantiasa berada dalam kehidupan bersama.
3.        Manusia hanya akan menjadi manusia melalui interaksi dengan manusia lain. Dalam kaitan ini manusia saling membutuhkan untuk membangun dirinya menjadi manusia yang bermakna. Pendidikan merupakan salah satu wahana usaha sadar untuk membangun manusia yang di dalamnya ada unsur sentralnya yaitu guru sebagai pendidik. ”Guru” merupakan pemegang peran utama dalam proses memanusiakan manusia menjadi manusia melalui pendidikan.
4.        Guru merupakan manusia dengan segala karakteristiknya sebagaimana manusia lainnya guru harus memiliki penunjang kehidupan berupa pekerjaan dan kesejahteraan. Guru harus terus meningkatkan kualitasnya dalam beradaptasi terhadap tuntutan yang berkembang sehingga mampu menjadi sosok pendidik yang paripurna. 

Visi dan  misi PGRI

                 PGRI telah membuktikan dirinya sebagai organisasi yang masih tetap lestari hingga kini dan tentunya untuk masa-masa yang akan datang. PGRI tetap konsisten terhadap komitmen jatidiri yang bersumber pada visi masa depannya yaitu mewujudkan PGRI sebagai organisasi dinamis, mandiri, dan berwibawa yang dicintai oleh anggotanya, disegani oleh mitranya, dan diakui keberadaannya oleh masyarakat luas. Dengan visi ini, PGRI mengemban sejumlah misi yang harus diwujudkan. Misi Pertama adalah misi nasional, yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Misi kedua adalah misi pembangunan nasional, yaitu menyukseskan pembangunan nasional. Misi ketiga adalah misi pendidikan nasional yaitu menyukseskan pendidikan nasional sebagai bagian pembangunan nasional. Misi keempat adalah misi profesional, yaitu memperjuangkan hak dan martabatnya serta pengembangan karirnya. Misi yang kelima ialah misi kesejahteraan, yaitu memperjuangkan tercapainya kesejahteraan lahir bathin para guru.

Selasa, 06 November 2012

Manusia yang utama



Seperti yang telah diikatakan mbah Plato manusia adalan Zoon Politicon ialah makhluk yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, secara kodratnya makhluk yang satu ini memang membutuhkan mitra dalam hidupnya agar semua kebutuhan dapat terwujudkan.
Ketika manusia sudah berinteraksi dengan manusia yang lainnya akan menimbulkan harmonisasi dalam hubungannya sehingga manusia akan menemukan eksistensi dari kehidupan yaitu kebahagiaan.
pertanyaan yang memunculkan kemudian adalah apakah kebahagian harus diraih dengan uang melimpah ? mobil yang menumpuk, bersuamikan milyarder ? jawabannya sudah pasti tidak.
kebahagian tidak bisa diukur dengan sebuah materi.
Kebahagian juga tidak bisa diukur dari kualitas intelektualnya, kita pintar, cerdas namun kita tidak bisa bersosialisasi dengan sekitar, maka nilainya adalah rendah.
Juga tidak berarti orang yang bodoh namun pandai bersosialisai bisa mendapatkan kebahagiaan itu, orang bodoh mengalami hambatan mencapai kebahagiannya disebabkan kebodohannya.

Menurut mbah Plato juga kebahagian meliputi 3 element penting ; yaitu, 1. Element akal 2. Element rohaniah dan 3. Element nafsu badaniyah. Ke tiga element ini disebut Tripartit. 
Rasa kebahagiaan manusia sebagai kebaikan tertinggi bersumber dari sifat-sifat alaminya yang berfungsi sebagai penyeimbang dari pemenuhan kebutuhan ketiga elemen yang membentuk manusia. Oleh karena itu, karena memiliki jiwa tripartit inilah maka kebaikan tertinggi bagi manusia adalah rasa tenteram atau kebahagiaan. Kebahagiaan didapat dari tiga pemenuhan tiga bagian jiwa di bawah aturan dan kendali akal.
Namun akal bukanlah esensi awal dari terciptanya unsur kebahagiaan, yang lebih mendasar lagi adalah hati, hati  adalah penggerak akal. Karena akal adalah bentuk cerminan dari hati. Hati yang baik akan menimbulkan akal yang baik juga sebaliknya, hati yang sudah keruh akan mengakibatkan  akal berfikir secara sempit.

Sesuai dengan sabda baginda Nabi Muhammad s.a.w  ’ala wa inna fi al-jazad mudghatan idza salahat salahat al-jazadi kullihi wa idza fasadat fasadati al-jazadi kullihi ‘ala wahia al-qalbu”
Artinya :" dan sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah, apabila ia baik maka baik pula seluruh tubuh dan apabila segumpal darah itu buruk maka buruk pulalah seluruh tubuh, ia adalah hati". diatas ini adalah cara mendapatkan kebahagian dari dalam diri sendiri dan merupakan langkah untuk mendapatkan respect dari orang lain. Eksintensi kebahagian adalah dimana kita bisa mendapatkannya dari dalam diri kita sendiri dan mendapatkannya dari orang lain.

Rasulullah bersabda “ Khairu annas anfa’uhum li an-nas” manusia yang baik ialah manusia yang berguna untuk orang lain. hadits ini merupakan implikasi dari esensi kebahagian tiu sendiri.  Pastinya kita akan berterimakasih apabila ada orang lain membantu  kita. Namun ketika orang lain membutuhkan pertolongan kita namun tidak bisa membantunya maka barangkali kita akan mendapatkan nilai negatif. Mengapa tidak ? toh, kita mampu membantunya tapi tidak mau menolongnya. Itulah adalah refleksi akibat yang kita timbulkan.
Untuk dapat merealisasikan dan mengimplementasikan hadits tersebut maka setiap individu diharapkan mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri. Ini adalah stimulus untuk dapat mewujudkannya.

Maka, jadilah manusia yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi namun juga pandai-pandai bersosialisasi dengan masyarakat, itu membuat seseorang mendapatkan kredit tinggi dari sebuah kehidupan itu sendiri.

By : Alfarabi Faqih



Senin, 01 Oktober 2012

Arti Namaku :)

MOH FAQIH ALFAROBI

Nama yang memiliki kredit tinggi dalam implementasi maknanya.
MUHAMMAD, sudah umum nama ini digunakan bagi kaum muslim lelaki memiliki tujuan agar dapat menjadikan dirinya seperti tokoh Muhammad sang Revolusioner dunia. Muhammad adalah panutan bagi setiap lelaki. tokoh inspirasi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup.


FAQIH, hmm.. alangkah indahnya jika nama ini disebut untukku ketika dihadapkan dengan pemberian hadiah berlabel tinggi di halayak umum.hee :D
memilik arti orang yang faham terhadap sesuatu, tapi khususnya paham terhadap ilmu dibidang Fiqh, bentuk mufrad dari jama' lafaz Fuqaha. menjadi tokoh-tokoh yang menentukan dan memberikan fatwa tentang hukum yang terus mengalami pembaharuan sesuai budaya yang berkembang, adalah Ijmak yang merupakan bagian dari sumber pokok ajaran islam.hmm,, mulya kan orang yang berpredikat seperti itu. !?

sampai disini saja makna dari nama MOH FAQIH sudah bisa dibilang Waaaaaaw !!
belum lagi Alfarabinya.

ALFARABI, terinspirasi dari nama tokoh cendekiawan muslim Abu Nasr al-Farabi(258-339 H/870-950 M) dalam bidang ilmu filsafat, sudah pasti cerdas dan memiliki wawasan luas, karyanya yang cemerlang dalam bidang ini ialah filsafat emanasi (pancaaran). sulit menemukan orang yang seperti ini di jaman yang super edan ini. atau mungkin boleh dikatakan sudah tidak ada.

mengenai diriku yang sebenarnya tak ada satupun dari unsur ketiga nama ini melekat dalam sifatq, tak bisa menjadi tokoh pemimpin orang banyak, tak begitu paham dalam ilmu Fiqh dan tak cerdas seperti Alfarabi. namanya bagus tapi tak diserap oleh orangnya. hmm.

meskipun begitu, meski aku tak paham, meski aku tak cerdas namun aku masih mampu berharap setiap apa yang q kerjakan, setiap apa yang q putuskan dalam suatu permasalahan jawabannya adalah cerdas dan dapat dipahami oleh orang lain.
dengan kata lain meski orangnya tidak cerdas dan tidak mengerti tpi semoga langkah dan jawabaannya  adalah cerdas dan dapat dipaahmi oleh orang lain sehingga kemudian bisa dijadikan ukuran dalam menjawab pertanyaan hidup.


Itulah makna dibalik namaku. :)
 


Kamis, 27 September 2012

Diriku Melupakan Cinta Pertama

Mengapa Kau megkhabarkan kebahagiaan yng kau rasakan diatas kebahagiannya kebahgiaanmu sendiri. tidakkah kau menularkannya pada diriku yg sudah lama akan penantianku.
itu secara nyata telah m'buat ingataanQ kmbali ke peristiwa bersamamu.
seperti kau telah mendaratkankan kembali benturan.
bukankah aku sekarang sedang terpuruk ??
bukankah aku sedang tenggelam dalam ingatan masa lalu nan kelam ??
Kau tak tau menau kan hal diriku, melainkan engkau bermain didalam khayalanku bersama orang2 yang kau terima dengan cinta,

Tertawa dalam seraingkain tangisanku , ,

gambaran indah yng telah q rangkai berhari-hari, berminggu-minggu, sampai berbulan-bulan,
gambaran yang sedianya q siapkan dalam jangka panjang dimasa depan,,

Hancur dalam genngaman TAKDIR..
malah kau membantu takdir meluluh lantakkan jiwa dan semua ragaku,,

ARRRGGGGH..!!
teriakku mencoba mengontrol Amarah yang bergejolak.

sudahlah !!
bisakah aq melawan semua ini, bukankah aku berada dibawah kekuasaan takdir, !?
itulah hidup. "Rencana tak seindah fakta"

imajinasi yang dulu telah q rangkai seindah mungkin, kini sudah terbengkalai dengan lumut2 yang menghinggapi.
kubuang semua itu, ku hancurkan semuanya demi diriku tuk masa depan lebih baik meski kadang q masih menoleh kebelakang..

Pada akhirnya, datang padaQ WAKTU tuk bisa melupakanmu.
keindahan mulai tampak jelas didepanku. dunia yang dulu kelabu kini sudah beranjak Hijau menghiasi gerak aktifitasQ..

mataku kucoba melihat indahnya hidup yang berpeluang semakin indah pula, menjadi diri yang seperti dulu, kembali bangkit dari keterpurukan.

hmm... :)
Aku tersenyum melihat diriku bisa menenggelamkan dirimu, menghancurkanmu, dan menjadikanmu tak pernah ada dalam sejarah kehidupanku,

sekarang dirimu layaknya seperti angin yang datang untuk orang lain, tak sedikitpun aku terusik lagi oleh dirimu,
disaat kau menerpaku saat itulah kamu kemudian Lenyap menghilang, dan aku hanya ingin menyelipkan sedikit kata2 kepadamu, , ,

berterimakasihlah kepada seseorang yng membuat aq lupa padamu. ^_

TAQWA

berikut ini saya sedikit uraikan makna dari TAQWA yang saya kutip dari kitab kecil Taisiirul khallaq.

TAQWA- mungkin pengertian simpelnya adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangannya, tpi makna Taqwa sendiri bukanlah seperti itu.

menjalankan semua perintah, disini bukanlah amal-amalan wajib saja yang dikerjakan seperti salat, puasa, zakat dll, melainkan amal-amalan yang memang dianjurkan (Sunnah) seperti salat sunnah Qabliah-Ba'diyah, salat Tahajjud dsb. begitu juga dengan meninggalkan larangannya, jadi bukan ketika kita harus meninggalkan yang haram melainkan juga yang tidak disukai Allah (makruh).

jadi, tidak dikatakan taqwa pabila seseorang hanya mengerjakan perintah yang diwajibkan dan meninggalkan sesuatu yang sudah dihukumi haram melainkan juga melaksanakan perbuatan yang besifat anjuran dan meninggalkan perbuatan yang tidak disenangi oleh agama walaupun pekerjaan itu tidak termasuk dalam kategori dosa bagi pelakunya.

dan ketika hal ini benar-benar diterapakan maka manusia telah mencapai tingkatan taqwa dan akan mendapatkan kehidupan yang baik.

sementara untuk bisa meraih Taqwa, secara garis besar ada 3 hal, yaitu :

1. Merasa hamba yang lemah.
memang manusia tercipta dalam keadaan Dha'if, sehingga ketika kita memiliki sebuah rencana tidak semua apa yang kita rencanakan dapat terealisasikan, manusia hanyalah berencana  yang menentukan ialah Allah.

2. Mengingat semua kebaikan Allah
Allah memiliki sifat ar-Rahman dan ar-Rahim kasing sayangnya melebihi kasih sayang yang pernah ada dimuka bumi, ketika manusia melupakan Allah karena kehidupan duniawi dan kemudian kembali ketika terpuruk dalam usahanya pada saat itu Allah selalu dekat dengan hambanya.
maka, haruslah ingat bahwa nikmat Allah yang telah diberikan kepada mausia tak dapat dihitung sekalipun dengan tekhnologi yang sangat sangat canggih.
"Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, maka kalian tak dapat menghitungnya."(An-Nahl:18)

3. Mengingat Mati
ketika kita dihadapkan dengan kematian maka pasti kita akan sibuk untuk memperbanyak amal ibadah untuk bekal menghadapinya, 
perlu bekal yang sangat banyak untuk menghadapi kematian, yaitu memperbanyak amal-amal salih dan meninggalkan sejauh mungkin amal-amal kejelekan, dan hal inilah yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga semakin kita mengingatnya maka semakin terdorong untuk tidak mengerjakan keburukan dan akan semakin giat dalam taat melaksanakan perintahnya.