Seperti
yang telah diikatakan mbah Plato manusia adalan Zoon Politicon ialah makhluk yang tak bisa hidup tanpa bantuan
orang lain, secara kodratnya makhluk yang satu ini memang membutuhkan mitra
dalam hidupnya agar semua kebutuhan dapat terwujudkan.
Ketika
manusia sudah berinteraksi dengan manusia yang lainnya akan menimbulkan
harmonisasi dalam hubungannya sehingga manusia akan menemukan eksistensi dari
kehidupan yaitu kebahagiaan.
pertanyaan yang memunculkan kemudian adalah apakah kebahagian harus diraih dengan uang melimpah ? mobil yang menumpuk, bersuamikan milyarder ? jawabannya sudah pasti tidak.
kebahagian tidak bisa diukur dengan sebuah materi. Kebahagian juga tidak bisa diukur dari kualitas intelektualnya, kita pintar, cerdas namun kita tidak bisa bersosialisasi dengan sekitar, maka nilainya adalah rendah.
pertanyaan yang memunculkan kemudian adalah apakah kebahagian harus diraih dengan uang melimpah ? mobil yang menumpuk, bersuamikan milyarder ? jawabannya sudah pasti tidak.
kebahagian tidak bisa diukur dengan sebuah materi. Kebahagian juga tidak bisa diukur dari kualitas intelektualnya, kita pintar, cerdas namun kita tidak bisa bersosialisasi dengan sekitar, maka nilainya adalah rendah.
Juga
tidak berarti orang yang bodoh namun pandai bersosialisai bisa mendapatkan
kebahagiaan itu, orang bodoh mengalami hambatan mencapai kebahagiannya disebabkan
kebodohannya.
Menurut mbah Plato juga kebahagian meliputi 3 element penting ; yaitu, 1. Element akal 2. Element rohaniah dan 3. Element nafsu badaniyah. Ke tiga element ini disebut Tripartit.
Rasa kebahagiaan manusia sebagai kebaikan tertinggi bersumber dari sifat-sifat alaminya yang berfungsi sebagai penyeimbang dari pemenuhan kebutuhan ketiga elemen yang membentuk manusia. Oleh karena itu, karena memiliki jiwa tripartit inilah maka kebaikan tertinggi bagi manusia adalah rasa tenteram atau kebahagiaan. Kebahagiaan didapat dari tiga pemenuhan tiga bagian jiwa di bawah aturan dan kendali akal.
Namun akal bukanlah esensi awal dari terciptanya unsur kebahagiaan, yang lebih mendasar lagi adalah hati, hati adalah penggerak akal. Karena akal adalah bentuk cerminan dari hati. Hati yang baik akan menimbulkan akal yang baik juga sebaliknya, hati yang sudah keruh akan mengakibatkan akal berfikir secara sempit.
Sesuai
dengan sabda baginda Nabi Muhammad s.a.w “’ala wa inna fi al-jazad mudghatan idza
salahat salahat al-jazadi kullihi wa idza fasadat fasadati al-jazadi kullihi
‘ala wahia al-qalbu”
Artinya :" dan sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah, apabila ia baik maka baik pula seluruh tubuh dan apabila segumpal darah itu buruk maka buruk pulalah seluruh tubuh, ia adalah hati". diatas ini adalah cara mendapatkan kebahagian dari dalam diri sendiri dan merupakan langkah untuk mendapatkan respect dari orang lain. Eksintensi kebahagian adalah dimana kita bisa mendapatkannya dari dalam diri kita sendiri dan mendapatkannya dari orang lain.
Rasulullah
bersabda “ Khairu annas anfa’uhum li an-nas” manusia yang baik ialah manusia yang berguna untuk orang lain. hadits
ini merupakan implikasi dari esensi kebahagian tiu sendiri. Pastinya kita akan berterimakasih apabila ada
orang lain membantu kita. Namun ketika
orang lain membutuhkan pertolongan kita namun tidak bisa membantunya maka
barangkali kita akan mendapatkan nilai negatif. Mengapa tidak ? toh, kita mampu
membantunya tapi tidak mau menolongnya. Itulah adalah refleksi akibat yang kita
timbulkan.
Untuk
dapat merealisasikan dan mengimplementasikan hadits tersebut maka setiap
individu diharapkan mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri. Ini
adalah stimulus untuk dapat mewujudkannya.
Maka,
jadilah manusia yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi namun juga
pandai-pandai bersosialisasi dengan masyarakat, itu membuat seseorang
mendapatkan kredit tinggi dari sebuah kehidupan itu sendiri.
By
: Alfarabi Faqih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar