Rabu, 23 Januari 2013

HOROR dalam Seni Film Indonesia



Film adalah sebuah seni yang memiliki estetika tersendiri didalamnya, hal yang paling tidak bisa dipungkiri ialah bentuk atapun gambar yang dimunculkan oleh film itu sendiri, ini membuat sebagian orang lebih memilih menonton film daripada seni panggung lainnya. Orang akan dimanjakan dengan ilustrasi gambar yang sangat kreatif dan imajinatif sehingga mereka terhipnotis olehnya. Namun yang menjadi pembahasan utama dalam artikel ini adalah bagaimana film itu mempengaruhi para penikmatnya dalam perkembangan moralitas dan sosialitasnya.
Film menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah lakon (cerita) gambar hidup, sedangkan seni adalah  penggunaan budi pikiran untuk menghasilkan karya yang menyenangkan bagi roh manusia. Seni memiliki nilai-nilai positif didalamnya, menurut Aris Toteles seni harus memiliki fungsi untuk membuat katarsis bagi masyarakat. Katarsis berarti pelepasan hal-hal yang negative, atau dalam bahasa religi berarti pemurnian jiwa.(Nugroho Trisnu Brata, 2007:7).
Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa esksistensi dafi film sebagai seni adalah film merupakan sebuah cerita yang diwujudkan dengan gambar hidup yang harus memberikan katarsis bagi penikmatnya, Yaitu perubahan sifat yang lebih baik. Jika tidak memberikan efek kebaikan maka itu bukanlah termasuk dalam kategori seni. Karena seni memiliki beberapa fungsi, yaitu : 1) Fungsi Ritual. 2) Fungsi Pendidikan. 3) Fungsi komunikatif. 4) Fungsi hiburan. film harus memiliki salah satu dari fungsi empat tersebut, dari beberapa fungsi ini film setidak-tidaknya harus memiliki fungsi sebagai hiburan.   
Tentang film horor sejatinya film horor adalah film yang berisikan cerita-cerita menyeramkan, hal ini kebanyakan para sutradara menggunakan hantu-hantu yang ada di Indonesia, semisal  kuntilanak, pocong, sunder bolong dsb. namun ironisnya dewasa ini film horor isinya sudah menyeleweng dari nilai sesungguhnya, film horor sekarang lebih sering kita jumpai dengan cerita humor, dan pornografi sebut saja film Dendam Pocong Mupeng, Pulau Hantu, Pocong kesetanan dan masih banyak lagi film horor yang terdapat unsur keduanya. Entah tujuannya karena sudah menjadi konsep seperti itu, ataupun sebagai langkah untuk mendapatkan perhatian yang lebih, maka sutradara paling suka disetiap ada cerita dibumbui kisash-kisah seks.
Indonesia adalah mayoritas kaum muslim didunia sehingga tentang pemberlakuan hokum syariat masih kental kita ketemui beda dengan Negara-negara barat yang sudah banyak menjadikan hal-hal yang tak senonoh menjadi kebudayaan mereka dan ini diwariskan pada turunan mereka. Kita sebut adat mereka adat barat sedangkan di Indonesia adalah adat timur yaitu adat yang membiasakn diri jauh dari sifat buka-bukaan (tubuh red). Dari sinilah harusnya menjadi alasan utama bagi investor-investor luar agar untuk tidak membuat film yang nobanenya tak mendidik malah mengajarkan orang lain sebuah kekeliruan dalam implemntasi kehidupannya.
 Sebelum kita mendiskreditkan perfilman (horor) Indonesia sebelum itu film yang bernuansa islam pernah menjadi kontroversi, disebabkan isi yang terdapat dalam cerita tak sesuai dengan ajaran islam, seperti dalam film karya sutradara terkenal Hanung Bramantyo “Perempuan Berkalung Sorban” yang dikalim memberikan citra buruk kepada islam tentang pesantren, sehinggan MUI (Majelis Ulama Indonesia) meminta film itu untuk ditarik kemudian diganti salah satu adegannya (Sidogiri, edisi 38: 12). Contoh lain juga terdapat pada sinetron Hareem. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat meminta pada Indosiar untuk memperbaikinya. Jika tidak, KPI berencana menghentinkan sinetro itu. Tak pelak setelah ultimatum itu dikeluarkan maka pada awalnya para perempuan-perempuan berkerudung yang menjadi empat istri seorang lelaki dalam sinetron itu semua hijabnya dilepaskan. MUI beralasan sinetron ini melecehkan citra islam karena dialur cerita itu terdapat perebutan sang anak terhadap istri keempat sang ayah.
Film horor sekarang ini sudah semakin parah tidak lagi memberikan citra lagi bagi dunia perfilman Indonesia dan jauh dari kata memberikan katarsis bukan untuk pencerahan, malah orang berasumsi untuk melakukan seperti apa yang ada di film horor itu sudah biasa dan sewajarnya dan tidak masuk dalam kategori masalah yang sangat besar.
Ditinjau dari segi fungsi seni film horor mungkin bisa dikatakan menghibur namun jika ditinjau dengan lebih dalam lagi film horor nyatanya lebih banyak memberikan dampak negatif, diantaraya sebagai berikut :
1.      Memberikan citra buruk kepada dunia perfilman indoneia, sebab Indonesia lebih banyak memproduksi film  horor, yang menunjukkan belum bisa memberikan film yang berkualitas. Istilah lain film Indonesia dikatakan itu-itu saja.
2.      Masyarakat lebih antusias melihat film semacam ini, malas untukmelihat film yang jarang ada buka-bukaannya apalagi yang memang tertutup secara keseluruhan.
3.      Adegan-adengan syur mememberikan pemahaman terhadap penonton bahwa adegan semacam itu bukanlah merupakan masalah besar lagi, itu sudah biasa dan semua sudah biasa melakukannya,
Dari isi film negatif ini juga memberikan dampak negatif sehingga Indonesia ternyata masih dalam dunia kebobrokannya karena bukan di jejali tontonan yang kreatif dan berkualitas malah terpaku  dalam film yang itu-itu saja.  Dan kebanyakan para produser hanya menjadikan film sebagai bisnis yang tak perlu harus memberikan fungsi edukasi didalamnya yang penting uang mengalir deras ke kantong, disisi lain kesadaran masyarakaat yang lebih antusias utuk melihat film sekedar hiburan daripada memberikan tiga fungsi seni lainnya.



*Nama : Moh. Faqih Al Farobi
  Npm : 1134411104
  Prodi : Bahasa & Sastra Indonesia
Tugas karya ilmiyah Filsafat Seni STKIP PGRI Bangkalan

Rabu, 09 Januari 2013

mencapai Insanun Kamil





Manusia diciptakan memiliki akal sebagai organ untuk berfikir mengenali kehidupan, meimilih dan memilah dengan baik, meninggalkan yang buruk dan mengambil jalan kebaikan.  
tentu untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup perlu adanya tahap-tahapan yang sudah teratur secara sistematis, dan satu-satunya jalan untuk itu adalah belajar. peran belajar dalam tatanan kehidupan merupakan bagian yang bersifat fundamental bagi tercapainya kesejahteraan hidup.
Dalam proses kehidupan manusia tak lepas dari sifat sosialnya hal itu memang sudah kodrat yang tak dapat terelakkan yang dapat mencapai tujuan humanis, bergaul dengan orang lain terdapat kaidah-kaidah yang tidak boleh dilanggar, karena jika tidak akan menimbulkan ketidak nyamanan dipihak lain sehingga timbullah perselisihan, kericuhan, dan pertikaian. Maka belajar merupakan solusi untuk membendung hal itu semua, dengan belajar mengajak orang lain mengerti sebuah pemahaman yang baik.
Insanun kamil adalah manusia yang mencapai derajat yang sempurna memenuhi kualifikasi dalam mecapai manusia yang bermartabat. Namun dewasa ini ironisnya terdapat pada remaja-remaja yang mengarahkan tujuan belajarnya kepada hal-hal yang bersifat materi. Hal ini tidak lain dengan memiliki ijazzah formal, predikat dan title yang tinngi akan membuat hidup seseorang sejahtera. Sehingga niat mereka dilandasi oleh nilai-nilai matrealis serta mengelakkan kode-kode etik dalam dunia pendidikan itu sendiri, contek mencontek ketika ujian serta pemenuhan absensi sebagai keabsahan namun tak dilandasi semangat yang betul-betul menunjukkan antusias belajar sudah menjangkiti dunia kependidikan di Indonesia ini.
Kaum mayotritas berasumsi bahwa keseejahteraan hidup dapat diraih dengan berlimpahnya uang, dengan uang mereka harus lulus dan memiliki nilai-nilai yang tinggi tanpa memperhatikan aturan-aturan didalamnya. Mungkin karena mereka sudah terbiasa dan memahaami sebuah wacana “belajar sebagai peningkatan mutu kehidupan” tanpa interpretasi lebih mendalam lagi sehinggan mereka memaknainya dengan pandangan yang linear. Hal ini yang menjadi alasan mendasar bagi pelajar dengan berorientasi pada mutu kehidupan yang baik akan dicapai dengan materi tujuannya adalah Ijazah dan titel. ini menyebabkan seseorang tak memperhatikan kode etik dan membiarkannya sebagai formalitas dalam sebuah organisasi, akhirnya terjadilah pendidikan yang tak mengajarkan kejujuran bantuan jawaban keika UNAS sudah menjadi biasa diduia pendidikan dengan beralasan jika tidak demikian para siswa tidak akan bisa menjawab soal-soal tersebut dan akhirnya tidak lulus. Siswa tidak lagi diajari pentingnya sebuah kejujuran, dan banyak hal-hal lain yang ditimbulkan maka terciptalah negara yang kebobrokannya menonjol.
Harus ada sebuah inisiatif untuk dapat mempebaiki paradigma yang sudah mengakar ini, manusia harus menjadi Insanun kamil yang akan menjadikan seorang yang bermartabat, adapun ciri-ciri manusia kamil adalah :

1.    Sifat Amanah (dapat dipercaya)
Amanah maksudnya ialah dapat memegang apa yang dipercayakan seseorang kepadanya walaupun hanya sesuatu yang kita anggap kurang berharga. Di zaman seperti sekarang ini sangat sulit menemukan sifat manusia yang seperti itu, sebab modern ini hidup penuh persaingan, menjadikannya kegagalan bagi seseorang yang tak memeiliki intelektual yang baik, sebuah talenta atau keterampilan,  dan jalan alternative terakhir adalah uang sebodoh apapun seseorang jika kuat dalam bidang finansial ini maka seseorang dapat meraih jabatan tinggi, pekerjaan yang layak dan jaminan hari tua. Jadi dengan itu manusia menempuh jalan alternatif untuk bisa memenuhi hasrat dan kebutuhannya dengan menghalalkan segala cara. jikapun ada, hanya segelintir orang saja yaitu orang – orang yang mengerti eksistensial dari makna kehidupan.

2.    Sifat shiddiq (Jujur)
Jujur adalah sikap moral (dalam perkataan maupun perbuatan) yang mengandung atribut berharga berupa kebenaran, integritas, kesatuan antara tindakan luar dan hati, dan sikap lurus yang berarti juga absennya kebohongan, penipuan, dan pencurian. (Encyclopedia Wikipedia).
Dari pengertian tersebut sudah jelas jujur merupakan sikap moral yang mencerminkan kebaikan. Jika kita ambil contoh terhadap suatu Negara semisal Indonesia yang sudah menjadi kebudayaan demi mmeraih sebuah kesuksesan.
Dampak dari ujian nasional yang sudah merata dengan system subsidinya berdampak sangat jelas terhadap dunia pendidikan di Indonesia sampai saat ini Indonesia belum bisa mencetak mayoritas kaum intelektual malah mereka cenderung untuk brutal, kriminal, dan anarki sehingga kemajuan Negara Indonesia tidak mengalami progresif. Contoh lain adalah kasus korupsi yang menunjukkan rendahnya sikap kejujuran para pejabat-pejabat Negara.
Esensi dari kejujuran bagi setiap orang adalah timbulnya sebuah ekspestasi dari masyarakat. Hal ini berarti mengangkat martabat seseorang.

3.     Tabligh ( Menyampaikan )
Tablig adalahh mmenyamapikan sesuatu yang memang harus disampaikan dalam pelaksaan ini diiringi oleh  sikap tanggung jawab atas apa yang ia sampikan.
Hal ini untuk menegaskan hakikiat dari sebuah kebenarann yang telah disampaikan oleh seseorang baik berupa ikhwal ini baik ataupun buruk sekalipun dan semua sudah siap dengan resiko yang harus diterima.

4.    Fathanah (Cerdas)
Cerdas adalah kemampuan seseorang dalam kemampuan akalnya menangkap segala sesuatu dengan cara menifestasinya yang berilian hal ini yang akan membawa kepada strategi dan efektifitas dalam  bidang apapun. Mampu menjawab semua tantangan itulah jawaban sederhana dari manifestasi Cerdas. Namun yang menjadi pusat perhatian adalah bagaimana mengarahkan kecerdasan ini untuk mengambil sikap dewasa dan menafikkan segala sesuatu yang terdapat unsur-unsur negatifnya.

            Dari uraian tentang Isanun kamil kiranya wacana tentang “belajar sebagai cara peningkatan mutu kehidupan manusia” harus dievaluasi demi meluruskan dan menjaga tujuan seseorang belajar yang sudah diinterpretasi dengan pemahaman yang salah agar seorang pelajar tau dan mengerti eksistensi sesungguhnya dari adanya pembelajaran.