Selasa, 11 Desember 2012

kalimat sedihku

masih tampak gelap tempat ini, tidak ada secercah cahaya yang menyelinap, menyisakan pemandangan yang tak bersahabat.
langkah gontai menapaki bumi menelusuri jalan yang terasa menjumpai lubang-lubang membuat langkah semakin berat.
ditambah basahnya tanah menjadikan ia lumpur disetiap jalan.

Ikhwal ini mengintip sosok dibalik bilik yang sudah terborgol dimasa lalu.
bukan dirimu sekarang, bukan dirimu di esok hari.
tak pernah mau mengulang bayangan itu, tak pernah bisa mengingat keadaannya.
semata-mata karena dirimu hadir dikehidupanku, membuyarkan lamunan kelamku, mengancurkannya, menjadikanya s'sosok yang tak seindah permata diera keemasannya.

dirimu menemani, mengobati, menjadi topik utama disetiap hayalan.
pertemuan singkat itu sudah menjadikanku mengenalmu semasa perjalanan mengelilingi bumi.

indah dikala dengar suaramu, melihat senyumu, mengundang tawamu.
namun kelam disaat kau tak sedikitpun menyediakan waktu buat aku, mengelakkan dan tak mengingatku.

Kau yang disana, bukalah telingamu untuk mendengar bisikanku,
ku berbisik didekatmu, namun bagimu bisikanku seperti terpisah diantara beratus-ratus kilo
mengertilah tentang diriku, ku menginginkanmu disetiap langkahku.

kau yang disana, lihatlah diriku walaupun dalam bentuk bayangan semata
jika dirimu tak bisa melihatku secara kasat mata.
satu menit saja perhatiamu bak seratus tahun mengiriku.

Kau yang disan, jangan abaikan diriku, jelaskan jika kau memang masih terbelenggu dengan sosok yang lain. agar diriku mengerti tak bisanya aku menandinginya.
diriku hanyalah diriku, betapapun lemahnya diriku dan sekuat apapun dirinya yang terpenting adalah bagaimana bisa diriku mengajakmu masuk dalam kehidupanku. dan menjadikanmu bagian dari diriku yang lain.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar