Manusia diciptakan
memiliki akal sebagai organ untuk berfikir mengenali kehidupan, meimilih dan
memilah dengan baik, meninggalkan yang buruk dan mengambil jalan kebaikan.
tentu untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup perlu adanya tahap-tahapan yang sudah teratur secara sistematis, dan satu-satunya jalan untuk itu adalah belajar. peran belajar dalam tatanan kehidupan merupakan bagian yang bersifat fundamental bagi tercapainya kesejahteraan hidup.
tentu untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup perlu adanya tahap-tahapan yang sudah teratur secara sistematis, dan satu-satunya jalan untuk itu adalah belajar. peran belajar dalam tatanan kehidupan merupakan bagian yang bersifat fundamental bagi tercapainya kesejahteraan hidup.
Dalam proses kehidupan
manusia tak lepas dari sifat sosialnya hal itu memang sudah kodrat yang tak
dapat terelakkan yang dapat mencapai tujuan humanis, bergaul dengan orang lain
terdapat kaidah-kaidah yang tidak boleh dilanggar, karena jika tidak akan
menimbulkan ketidak nyamanan dipihak lain sehingga timbullah perselisihan,
kericuhan, dan pertikaian. Maka belajar merupakan solusi untuk membendung hal
itu semua, dengan belajar mengajak orang lain mengerti sebuah pemahaman yang
baik.
Insanun kamil adalah
manusia yang mencapai derajat yang sempurna memenuhi kualifikasi dalam mecapai
manusia yang bermartabat. Namun dewasa ini ironisnya terdapat pada
remaja-remaja yang mengarahkan tujuan belajarnya kepada hal-hal yang bersifat
materi. Hal ini tidak lain dengan memiliki ijazzah formal, predikat dan title
yang tinngi akan membuat hidup seseorang sejahtera. Sehingga niat mereka dilandasi
oleh nilai-nilai matrealis serta mengelakkan kode-kode etik dalam dunia
pendidikan itu sendiri, contek mencontek ketika ujian serta pemenuhan absensi
sebagai keabsahan namun tak dilandasi semangat yang betul-betul menunjukkan
antusias belajar sudah menjangkiti dunia kependidikan di Indonesia ini.
Kaum mayotritas
berasumsi bahwa keseejahteraan hidup dapat diraih dengan berlimpahnya uang,
dengan uang mereka harus lulus dan memiliki nilai-nilai yang tinggi tanpa
memperhatikan aturan-aturan didalamnya. Mungkin karena mereka sudah terbiasa
dan memahaami sebuah wacana “belajar sebagai peningkatan mutu kehidupan” tanpa
interpretasi lebih mendalam lagi sehinggan mereka memaknainya dengan pandangan
yang linear. Hal ini yang
menjadi alasan mendasar bagi pelajar dengan berorientasi pada mutu kehidupan
yang baik akan dicapai dengan materi tujuannya adalah Ijazah dan titel. ini
menyebabkan seseorang tak memperhatikan kode etik dan membiarkannya sebagai
formalitas dalam sebuah organisasi, akhirnya terjadilah pendidikan yang tak
mengajarkan kejujuran bantuan jawaban keika UNAS sudah menjadi biasa diduia
pendidikan dengan beralasan jika tidak demikian para siswa tidak akan bisa
menjawab soal-soal tersebut dan akhirnya tidak lulus. Siswa tidak lagi diajari
pentingnya sebuah kejujuran, dan banyak hal-hal lain yang ditimbulkan maka
terciptalah negara yang kebobrokannya menonjol.
Harus ada sebuah inisiatif untuk dapat mempebaiki paradigma yang sudah
mengakar ini, manusia harus menjadi Insanun kamil yang akan menjadikan seorang
yang bermartabat, adapun ciri-ciri manusia kamil adalah :
1. Sifat
Amanah (dapat dipercaya)
Amanah maksudnya ialah dapat memegang apa yang
dipercayakan seseorang kepadanya walaupun hanya sesuatu yang kita anggap kurang
berharga. Di zaman seperti sekarang ini sangat sulit menemukan sifat manusia
yang seperti itu, sebab modern ini hidup penuh persaingan, menjadikannya
kegagalan bagi seseorang yang tak memeiliki intelektual yang baik, sebuah
talenta atau keterampilan, dan jalan
alternative terakhir adalah uang sebodoh apapun seseorang jika kuat dalam
bidang finansial ini maka seseorang dapat meraih jabatan tinggi, pekerjaan yang
layak dan jaminan hari tua. Jadi dengan itu manusia menempuh jalan alternatif untuk
bisa memenuhi hasrat dan kebutuhannya dengan menghalalkan segala cara. jikapun
ada, hanya segelintir orang saja yaitu orang – orang yang mengerti eksistensial
dari makna kehidupan.
2. Sifat
shiddiq (Jujur)
Jujur adalah sikap moral (dalam perkataan maupun
perbuatan) yang mengandung atribut berharga berupa kebenaran, integritas,
kesatuan antara tindakan luar dan hati, dan sikap lurus yang berarti juga
absennya kebohongan, penipuan, dan pencurian. (Encyclopedia Wikipedia).
Dari pengertian tersebut sudah jelas jujur merupakan
sikap moral yang mencerminkan kebaikan. Jika kita ambil contoh terhadap suatu
Negara semisal Indonesia yang sudah menjadi kebudayaan demi mmeraih sebuah
kesuksesan.
Dampak dari ujian nasional yang sudah merata dengan
system subsidinya berdampak sangat jelas terhadap dunia pendidikan di Indonesia
sampai saat ini Indonesia belum bisa mencetak mayoritas kaum intelektual malah
mereka cenderung untuk brutal, kriminal, dan anarki sehingga kemajuan Negara
Indonesia tidak mengalami progresif. Contoh lain adalah kasus korupsi yang
menunjukkan rendahnya sikap kejujuran para pejabat-pejabat Negara.
Esensi dari kejujuran bagi setiap orang adalah
timbulnya sebuah ekspestasi dari masyarakat. Hal ini berarti mengangkat
martabat seseorang.
3. Tabligh ( Menyampaikan )
Tablig adalahh mmenyamapikan sesuatu yang memang
harus disampaikan dalam pelaksaan ini diiringi oleh sikap tanggung jawab atas apa yang ia
sampikan.
Hal
ini untuk menegaskan hakikiat dari sebuah kebenarann yang telah disampaikan
oleh seseorang baik berupa ikhwal ini baik ataupun buruk sekalipun dan semua
sudah siap dengan resiko yang harus diterima.
4. Fathanah
(Cerdas)
Cerdas adalah kemampuan seseorang dalam kemampuan
akalnya menangkap segala sesuatu dengan cara menifestasinya yang berilian hal
ini yang akan membawa kepada strategi dan efektifitas dalam bidang apapun. Mampu menjawab semua tantangan
itulah jawaban sederhana dari manifestasi Cerdas. Namun yang menjadi pusat
perhatian adalah bagaimana mengarahkan kecerdasan ini untuk mengambil sikap
dewasa dan menafikkan segala sesuatu yang terdapat unsur-unsur negatifnya.
Dari
uraian tentang Isanun kamil kiranya wacana tentang “belajar sebagai cara
peningkatan mutu kehidupan manusia” harus dievaluasi demi meluruskan dan
menjaga tujuan seseorang belajar yang sudah diinterpretasi dengan pemahaman
yang salah agar seorang pelajar tau dan mengerti eksistensi sesungguhnya dari
adanya pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar