Rabu, 09 Januari 2013

mencapai Insanun Kamil





Manusia diciptakan memiliki akal sebagai organ untuk berfikir mengenali kehidupan, meimilih dan memilah dengan baik, meninggalkan yang buruk dan mengambil jalan kebaikan.  
tentu untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup perlu adanya tahap-tahapan yang sudah teratur secara sistematis, dan satu-satunya jalan untuk itu adalah belajar. peran belajar dalam tatanan kehidupan merupakan bagian yang bersifat fundamental bagi tercapainya kesejahteraan hidup.
Dalam proses kehidupan manusia tak lepas dari sifat sosialnya hal itu memang sudah kodrat yang tak dapat terelakkan yang dapat mencapai tujuan humanis, bergaul dengan orang lain terdapat kaidah-kaidah yang tidak boleh dilanggar, karena jika tidak akan menimbulkan ketidak nyamanan dipihak lain sehingga timbullah perselisihan, kericuhan, dan pertikaian. Maka belajar merupakan solusi untuk membendung hal itu semua, dengan belajar mengajak orang lain mengerti sebuah pemahaman yang baik.
Insanun kamil adalah manusia yang mencapai derajat yang sempurna memenuhi kualifikasi dalam mecapai manusia yang bermartabat. Namun dewasa ini ironisnya terdapat pada remaja-remaja yang mengarahkan tujuan belajarnya kepada hal-hal yang bersifat materi. Hal ini tidak lain dengan memiliki ijazzah formal, predikat dan title yang tinngi akan membuat hidup seseorang sejahtera. Sehingga niat mereka dilandasi oleh nilai-nilai matrealis serta mengelakkan kode-kode etik dalam dunia pendidikan itu sendiri, contek mencontek ketika ujian serta pemenuhan absensi sebagai keabsahan namun tak dilandasi semangat yang betul-betul menunjukkan antusias belajar sudah menjangkiti dunia kependidikan di Indonesia ini.
Kaum mayotritas berasumsi bahwa keseejahteraan hidup dapat diraih dengan berlimpahnya uang, dengan uang mereka harus lulus dan memiliki nilai-nilai yang tinggi tanpa memperhatikan aturan-aturan didalamnya. Mungkin karena mereka sudah terbiasa dan memahaami sebuah wacana “belajar sebagai peningkatan mutu kehidupan” tanpa interpretasi lebih mendalam lagi sehinggan mereka memaknainya dengan pandangan yang linear. Hal ini yang menjadi alasan mendasar bagi pelajar dengan berorientasi pada mutu kehidupan yang baik akan dicapai dengan materi tujuannya adalah Ijazah dan titel. ini menyebabkan seseorang tak memperhatikan kode etik dan membiarkannya sebagai formalitas dalam sebuah organisasi, akhirnya terjadilah pendidikan yang tak mengajarkan kejujuran bantuan jawaban keika UNAS sudah menjadi biasa diduia pendidikan dengan beralasan jika tidak demikian para siswa tidak akan bisa menjawab soal-soal tersebut dan akhirnya tidak lulus. Siswa tidak lagi diajari pentingnya sebuah kejujuran, dan banyak hal-hal lain yang ditimbulkan maka terciptalah negara yang kebobrokannya menonjol.
Harus ada sebuah inisiatif untuk dapat mempebaiki paradigma yang sudah mengakar ini, manusia harus menjadi Insanun kamil yang akan menjadikan seorang yang bermartabat, adapun ciri-ciri manusia kamil adalah :

1.    Sifat Amanah (dapat dipercaya)
Amanah maksudnya ialah dapat memegang apa yang dipercayakan seseorang kepadanya walaupun hanya sesuatu yang kita anggap kurang berharga. Di zaman seperti sekarang ini sangat sulit menemukan sifat manusia yang seperti itu, sebab modern ini hidup penuh persaingan, menjadikannya kegagalan bagi seseorang yang tak memeiliki intelektual yang baik, sebuah talenta atau keterampilan,  dan jalan alternative terakhir adalah uang sebodoh apapun seseorang jika kuat dalam bidang finansial ini maka seseorang dapat meraih jabatan tinggi, pekerjaan yang layak dan jaminan hari tua. Jadi dengan itu manusia menempuh jalan alternatif untuk bisa memenuhi hasrat dan kebutuhannya dengan menghalalkan segala cara. jikapun ada, hanya segelintir orang saja yaitu orang – orang yang mengerti eksistensial dari makna kehidupan.

2.    Sifat shiddiq (Jujur)
Jujur adalah sikap moral (dalam perkataan maupun perbuatan) yang mengandung atribut berharga berupa kebenaran, integritas, kesatuan antara tindakan luar dan hati, dan sikap lurus yang berarti juga absennya kebohongan, penipuan, dan pencurian. (Encyclopedia Wikipedia).
Dari pengertian tersebut sudah jelas jujur merupakan sikap moral yang mencerminkan kebaikan. Jika kita ambil contoh terhadap suatu Negara semisal Indonesia yang sudah menjadi kebudayaan demi mmeraih sebuah kesuksesan.
Dampak dari ujian nasional yang sudah merata dengan system subsidinya berdampak sangat jelas terhadap dunia pendidikan di Indonesia sampai saat ini Indonesia belum bisa mencetak mayoritas kaum intelektual malah mereka cenderung untuk brutal, kriminal, dan anarki sehingga kemajuan Negara Indonesia tidak mengalami progresif. Contoh lain adalah kasus korupsi yang menunjukkan rendahnya sikap kejujuran para pejabat-pejabat Negara.
Esensi dari kejujuran bagi setiap orang adalah timbulnya sebuah ekspestasi dari masyarakat. Hal ini berarti mengangkat martabat seseorang.

3.     Tabligh ( Menyampaikan )
Tablig adalahh mmenyamapikan sesuatu yang memang harus disampaikan dalam pelaksaan ini diiringi oleh  sikap tanggung jawab atas apa yang ia sampikan.
Hal ini untuk menegaskan hakikiat dari sebuah kebenarann yang telah disampaikan oleh seseorang baik berupa ikhwal ini baik ataupun buruk sekalipun dan semua sudah siap dengan resiko yang harus diterima.

4.    Fathanah (Cerdas)
Cerdas adalah kemampuan seseorang dalam kemampuan akalnya menangkap segala sesuatu dengan cara menifestasinya yang berilian hal ini yang akan membawa kepada strategi dan efektifitas dalam  bidang apapun. Mampu menjawab semua tantangan itulah jawaban sederhana dari manifestasi Cerdas. Namun yang menjadi pusat perhatian adalah bagaimana mengarahkan kecerdasan ini untuk mengambil sikap dewasa dan menafikkan segala sesuatu yang terdapat unsur-unsur negatifnya.

            Dari uraian tentang Isanun kamil kiranya wacana tentang “belajar sebagai cara peningkatan mutu kehidupan manusia” harus dievaluasi demi meluruskan dan menjaga tujuan seseorang belajar yang sudah diinterpretasi dengan pemahaman yang salah agar seorang pelajar tau dan mengerti eksistensi sesungguhnya dari adanya pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar