Siapa yang salah ?
dewasa ini, semakin hari yang namanya moralitas semakin terkikis,
banyak masalah dan kasus yang menyangkut halayak umum khususnya para
pelajar (Pemuda), sebagian besar tingkah kenakalan remaja sudah tak
terhitung lagi kasusnya.
Dengan sikap yang masih labil belum
memiliki prinsip hidup yang kuat pemuda lebih cenderung terpengaruh oleh
lingkungannya, menyikapi sebuah permasalahan tanpa adanya penghayatan,
pemikiran, dan pertimbangan yang tepat terhadap masalah itu sendiri,
sulit baginya membendung dan mencari jalan keluar. Alhasil mereka terus
terjerembab dalam permasalahannya dan terkadang terbawa oleh masalah
masalah lain yang menyeretnya.
hal ini yang kemudian menimbulkan
pertanyaan apa dan siapa yang menjadi alasan utama akar permasalahan ini
? mungkin jika tuduhan ini ditujukan kepada siswa tentu kurang begitu
tepat sebab disisi lain sosok guru sebagai pembingbing perlu
dipertanyakan kinerjanya, begitu pula orang tua yang lebih dekat dan
lebih faham tentang karakter anaknya.
kiranya inilah yang menjadi
polemik dalam dunia pendidikan. Perlu dengan cepat menemukan ramuan yang
tepat mengatasi segala permasalahan ada demi keberlangsungan hidup
bangsa. dengan kasus-kasus yang ada, mencerminkan potret pendidikan di
indonesia sunngguh suram, tak lebih setiap tahun kasus yang terjadi
semakin meningkat meliputi berbagai pelanggaran terhadap aspek norma
kehidupan, norma agama, social, asusila, hokum dan sebagainya.
Sungguh ironis jika seorang guru yang menjadi tuduhan yang harus
disematkan. meskipun alasan ini tak bisa dipungkiri pula. guru yang
notabennya adalah seorang pendidik, pembingbing, dan pengarah selalu
berusaha mengarahkan para pelajar kepada gerbang kedewasaan, menciptakan
manusia-manusia intelek, penuh kreatifitas, dan skill yang mumpuni.
Apakah karena keberadaan guru saat ini belum memenuhi kualitas sebagai
pendidik yang baik, tidak memiliki kapabilitas, dan loyalitas tinggi
dalam melayani anak-anak bangsa.
Berbicara guru sebagai suatu
profesi yang melayani bangsa yang bila kita hitung nominal gaji dari
seorang guru yang bisa dibilang hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari membuat sebagian guru kurang memiliki sikap patariotisme
terhadap bangsa, mereka setengah-setengah dalam baktinya. Ketika dikira
tidak bisa mengatasi siswa dengan suatu cara tidak ada usaha untuk
mencari inisiatif yang lain yang terpenting mereka telah melakoni
tuntutan kerjanya. Yang lebih parah lagi bila seorang guru yang kita
anggap sebagi figure dan tokoh yang memiliki kewibawaan dan dapat
dipercaya malah melakukan sendiri kebejatan moral seperti banyak kasus
yang telah terjadi, pelanggaran terhadap tindak asusila contoh
pemerkosaan dan pencabulan terhadap siswanya sendiri.
Jika orang
tua, orang tua banyak lupa terhadap tugas dirinya. Mereka hanya
terfokus bagaimana mendapatkan materi untuk memenuhi kebutuhan hidup
keluarganya sehingga mengabaikan pengawasan terhadap anaknya. Orang tua
memasrahkan penuh kepada seorang guru dan tidak mau tau tentang
urusannya baru ketika ada masalah semua perhatian baru tertuju kepada
anaknya.
Orang tua notabennya adalah sosok yang sangat tepat untuk
menjaga perkembangan anaknya, hal ini sungguh sangat disesalkan pabila
orang tua tidak bisa memanfaatkan potensi ini untuk menjadikan anaknya
seseorang yang berprestasi. Guru hanya pendidik dikelas dan semestinya
orang tua lah yang memiliki banyak waktu untuk menjaga dan merawat
putranya. Tidak ada pengawasan dari orang tua maka sang anak akan merasa
bebas bergaul dengan teman-temannya, sehingga hal ini lah yang memicu
adanya tawuran dikalangan remaja.
kehidupan remaja ini lebih
cenderung terhadap hal-hal yang berbau tekhnologi, Hp, Play Station,
Internet kini sudah menjadi sahabat bagi pemuda yang setiap waktu tidak
pernah lepas dari genggaman. Waktu ini lebih banyak dari pada waktu
bersama guru dikelas.. jelas !! kemajuan tekhnologi ini memang sangat
berpengaruh bagi keberlangsungan pendidikan. yang mana banyak dari
pelajar tidak bisa menfilter bagian-bagian yang kiranya baik dan yang
salah. alhasil segala informasi yang didapatkan dari internet dikonsumsi
secara masif tanpa ada pengecualian.
selain itu kebanyakan siswa
sekarang lebih memilih bercengkrama bersama teman-temannya. jarang
sekali kita temui seorang sedang sendiri membaca buku diperpustakaan,
mengerjakan tugas dirumah. Melainkan disibukkan dengan update status.
ini menjadi alasan yang besar dari terkikisnya akhlak manusia, nasehat,
bimbingan, dan arahan guru kini hanya menjadi seperti bualan kosong yang
kemudian lewat begitu saja, orang tua teledor dalam mengawasi anaknya
dan mudah sekali anak-anaknya membohongi ibu dan ayahnya semacam pergi
main kerumah temannya dengan dalih ada les disekolah. Ketika hal ini
sudah berlangsung secara kontinu maka kebiasaan ini akan menjadi
kebutuhan yang tak akan terpisahkan dari dirinya.
dari sedikit
penjabaran diatas, dapat kita temukan permasalahan yang kompleks yang
harus ditemukan solusi mengatasinya. Hal yang mungkin perlu diambil
sebagai inisiatif adalah mengatasi masalah yang terjadi, tentu siswa dan
guru harus bisa saling mengisi satu sama lain, orang tua begitu juga
jangan sampai luput dari pengawasan terhadap anaknya dalam pergaulan di
sekolah dan di rumah. Dan yang perlu ditanamkan kepada diri seorang guru
dan siswa ialah sebuah kejujuran. sebanyak apapun aturan-aturan hukum
yang ada jika tak dilaksanakan dengan kejujuran semua menjadi sia-sia.
Hal itu bersifat kolektif bagi semua intansi negara baik para penegak
hukum, aparat pemerintah, maupun sipil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar